Kamis, 13 Oktober 2022

I'jaul Quran /XI AGAMA /Bahan Ajar Smester 1

Pengertian I’jaz Al-Qur'an 

 

Kata mukjizat berasal dari bahasa Arab yang berakar dari kata a’jaza, bentuk masdarnya adalah i’jaz. A’jaza memiliki beberapa arti, diantaranya melemahkan, yang meniadakan kekuatan, yang mstahil tertirukan. Didalam Al-qur’an kata i’jaz digunakan dalam beberapa bentuk sebanyak 25 kali. Dan kata A’jaza dalam al-Qur’an digunakan untuk beberapa pengertian, diantaranya, “tidak mampu” seperti terdapat daam ayat Al-Maidah: 31 

 

فَبَعَثَ اللَّهُ غُرَابًا يَبْحَثُ فِي الْأَرْضِ لِيُرِيَهُ كَيْفَ يُوَارِي سَوْءَةَ أَخِيهِ ۚ قَالَ يَا وَيْلَتَا أَعَجَزْتُ أَنْ أَكُونَ مِثْلَ هَٰذَا الْغُرَابِ فَأُوَارِيَ سَوْءَةَ أَخِي ۖ فَأَصْبَحَ مِنَ النَّادِمِينَ 

“Kemudian Allah menyuruh seekor burung gagak menggali-gali di bumi untuk memperlihatkan kepadanya (Qabil) bagaimana seharusnya menguburkan mayat saudaranya. Berkata Qabil: "Aduhai celaka aku, mengapa aku tidak mampu berbuat seperti burung gagak ini, lalu aku dapat menguburkan mayat saudaraku ini?" Karena itu jadilah dia seorang diantara orang-orang yang menyesal.” (QS Al-Maidah: 31) 
Dari beberapa bentuk yang ada dapat dikatakan bahwa i’jaz berarti melemahkan.
Sesuatu dapat dikatakan sebagai mukjizat apabila memenuhi beberapa persyaratan sebagai berikut: 
1. Tidak ada seorangpun selain Allah yang dapat melaksanakannya
2. Diluar dari kebiasaan
3. Merupakan bukti kebenaran
4. Terjadi bersamaan dengan pengakuan seorang utusan Allah dan hanya terjadi pada Rasul Allah, bukan manusia biasa.
Dalam hal ini al-suyuthi membagi mukjizat menjadi da macam, yaitu mukjizat hissi dan mukjizat aqli.

Mukjizat hissi merupakan mukjizat yang dapat digapai melalui panca indera, yang ditujukan kepada manusia biasa yang tidak terbiasa menggunakan kecerdasan pikiran. Misalnya mukjizat Nabi Musa dengan tongkatnya yang ditujukan kepada Bani Israil. Sedangkan mukjizat aqli adalah mukjizat yang tidak mungkin dicapai melalui kekuatan panca indera, tetapi melalui kekuatan akal dengan kecerdasan pikirannya. 
Al-zarqany mengartikan mukjizat al- Qur’an dengan suatu perkara bagi manusia untuk mendatangkan semisal al-Qur’an baik secara individual maupun secara kelompok. Mukjizat dapat juga berrati sesuatu yang keluar dari kebiasaan dan ketentuan sebab-sebab yang diketahui serta diberikan kepada para Nabi untuk memperkuat dakwahnya. 


Menurut Manna’ al-Qaththan yang dimaksud dengan mukjizat dalam al-Qur’an adalah: “sesuatu urusan(hal) yang menyalahi adat kebiasaan , dibarengi atau diiringi dengan tantangan atau pertandingan dan terbebas dari perlawanan(menang). 


Jadi i’jaz al-Qur’an adalah kekuatan, keunggulan, dan keistimewaan yang dimiliki al-Qur’an yang menetapkan kelemahan manusia baik secara terpisah-pisah maupun secara berkelompok, untuk bisa mendatangkan sesuatu yang serupa atau menyamainya, hal ini menunjukkan atas kebenaran Rasulullah didalam mengembangkan misi dakwahnya.

Unsur-Unsur I’jaz

1) Hal atau peristiwa yang luar biasa 

Peristiwa-peristiwa alam, misalnya, yang terlihat hari-hari, walaupun menakjubkan tidak dinamai mukjizat, karena ia merupakan sesuatu hal yang biasa. Yang dimaksud dengan luar biasa adalah sesuatu yang berada diluar jangkauan sebab dan akibat yang diketahui secara umum hukum-hukumnya. 


2) Terjadi atau dipaparkan oleh seseorang yang mengaku Nabi 

Tidak mustahil terjadi hal-hal diluar kebiasaan pada diri siapapun. Namun, apabila bukan dari seseorang yang mengaku Nabi, ia tidak dinamai mukjizat. Boleh jadi sesuatu yang luar biasa tampak pada diri seseorang yang kelak bakal menjadi nabi. Ini pun tidak dinamai mukjizat, tetapi irhash. Boleh jadi juga keluarbiasaan itu terjadi pada seseorang yang taat dan dicintai Allah, tetapi inipun tidak disebut mukjizat. Hal seperti ini dinamai karamah atau kekeramatan, yang bahkan tidak mustahil terjadi pada seseorang yang durhaka kepada-Nya, yang terakhir ini dinamai dengan ihanah(penghinaan) atau istidraj(“rangsangan” untuk lebih durhaka). 


3) Mengandung tantangan terhadap yang meragukan kenabian 

Tentu saja tantangan ini harus berbarengan dengan pengakuannya sebagai Nabi, bukan sebelum atau sesudahnya. Disisi lain, tantangan tersebut harus pula merupakan sesuatu yang sejalan dengan ucapan seorang Nabi. 


4) Tantangan tersebut tidak mampu atau gagal dilayani 

Apabila yang ditantang berhasil melakukan hal serupa, ini berarti bahwa pengakuan sang penantang tidak terbukti. Perlu digarisbawahi bahwa kandungan tantangan harus benar-benar dipahami oleh yang ditantang. Bahkan untuk lebih membuktikan kegagalan mereka, biasanya aspek kenukjizatan masing-masing Nabi adalah hal-hal yang sesuai dengan bidang keahlian umatnya.
Sebagai mukjizat al-Qur’an mengandung tantangan-tantangan. Dan tantangan itu terdiri atas empat macam tahap, yaitu: 

a. Menantang siapapun yang meragukannya untuk menyusun semacam al-Qur’an secara keseluruhan ayat dan surat. Misalnya pada surat Al-Thur: 34 sebagai berikut:
فَلْيَأْتُوا بِحَدِيثٍ مِثْلِهِ إِنْ كَانُوا صَادِقِينَ
“Maka hendaklah mereka mendatangkan kalimat yang semisal Al Quran itu jika mereka orang-orang yang benar.” 
b. Menantang untuk menyusun sepuluh surat semacam al-Qur’an, sebagaimana pada Qs Hud ayat 13-14. 

أَمْ يَقُولُونَ افْتَرَاهُ ۖ قُلْ فَأْتُوا بِعَشْرِ سُوَرٍ مِثْلِهِ مُفْتَرَيَاتٍ وَادْعُوا مَنِ اسْتَطَعْتُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ 

“Bahkan mereka mengatakan: "Muhammad telah membuat-buat Al Quran itu", Katakanlah: "(Kalau demikian), maka datangkanlah sepuluh surat-surat yang dibuat-buat yang menyamainya, dan panggillah orang-orang yang kamu sanggup (memanggilnya) selain Allah, jika kamu memang orang-orang yang benar" 
c. Menantang untuk menyusun satu surat saja semacam al-Qur’an , sebagaimana pada QS Yunus ayat 38:

أَمْ يَقُولُونَ افْتَرَاهُ ۖ قُلْ فَأْتُوا بِسُورَةٍ مِثْلِهِ وَادْعُوا مَنِ اسْتَطَعْتُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ 

“Atau (patutkah) mereka mengatakan "Muhammad membuat-buatnya". Katakanlah: "(Kalau benar yang kamu katakan itu), maka cobalah datangkan sebuah surat seumpamanya dan panggillah siapa-siapa yang dapat kamu panggil (untuk membuatnya) selain Allah, jika kamu orang yang benar". 
d. Menantang untuk menyusun sesuatu seperti atau lebih kurang sama dengan satu surat dari al-Qur’an. Allah berfirman dalam QS Al-Baqarah 23:

وَإِنْ كُنْتُمْ فِي رَيْبٍ مِمَّا نَزَّلْنَا عَلَىٰ عَبْدِنَا فَأْتُوا بِسُورَةٍ مِنْ مِثْلِهِ وَادْعُوا شُهَدَاءَكُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ 

“Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al Quran yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal Al Quran itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar.”

Aspek Tinjauan Ulama

Dalam hal ini terdapat beberapa pendapat di kalangan ulama. Diantara pandangan yang dikemukakan: 
1. Menurut Abu Ishaq Ibrahim An-Nazam dan pengikutnya dari kaum syi’ah seperti al-Murtadha, kemukjizatan al-Qur’an adalah dengan cara shirfah(pemalingan). Pandangan ini menjelaskan bahwa Allah memalingkan orang-orang Arab untuk menentang al-Qur’an dan mencabut dari mereka ilmu-ilmu yang diperlukan untukmenghadapi al-Qur’an. Dengan pemalingan ini maka dikatakan sebagai mukjizat al-Qur’an. Pandangan tentang shirfah seperti ini menurut al-Baqillany adalah pandangan yang salah, karena jika dikatakan mukjizat al-Qur’an melalui shirfah maka kalam Allah bukan mukjizat dan shirfahlah yang mukjizat. Dengan kata ain kalam Allah tidak mempunyai kelebihan atas kalam lain. 
2. Sebagian ulama ada yang mengatakan kemukjizatan al-Qur’an ialah karena gaya bahasanya membuat orang Arab pada saat itu kagum dan terpesona. Kehalusan ungkapan bahasanya membuat banyak diantara mereka masuk islam. Bahkan Umar ibn Khattab yang mulanya dikenal sebagai seorang yang paling memusuhi Nabi Muhammad saw memutuskan untuk masuk islam karena membaca petikan ayat-ayat al-Qur’an. 
3. Satu kelompok ulama mengatakan mukjzat al-Qur’an terletak pada balaghahnya yang mencapai tingkatan tinggi dan tidak ada bandingannya. Ini adalah merupakan pendapat ahli Bahasa Arab yang gemar terhadap bentuk-bentuk makna. 


4. Sebagian ada yang mengatakan kemukjizatan al-Qur’an adalah terletak pada pemberitaan sesuatu yang ghaib yang akan datang. Yang tidak dapat diketahui kecuali dengan wahyu. Sebagai contoh tentang jasad Fir’aun yang diselamatkan yang dijadikan sebagai pelajaran bagi generasi berikutnya, sebagaimna disebut dalam al-Qur’an surat Yunus ayat 92, peristiwa itu tidak diketahui oleh seorangpun karena terjadi pada tahun 1200 SM, sedangkan Mumi Fir’aun ditemukan pada abad 19 M.
Adapun terhadap kadar kemukjizatan al-Qur’an terdapat beberapa pendapat, antara lain: 
1. Golongan Mu’tazilah berpendapat bahwa kadar kemukjizatan al-Qur’an berkaitan dengan keseluruhan isi al-Qur’an, bukan sebagiannya. 
2. Sebagian ulama berpendapat bahwa kadar kemukjizatan al-Qur’an ada pada sebagian kecil atau sebagian besar dari ayat a-Qur’an, tanpa harus satu surat penuh. Hal ini berdasarkan atas firman Allah QS Ath-Thur ayat 34. Pendapat ini dinisbahkan pada Abu Hasan Al-Asyari. 
3. Sebagian ulama lain ada yang berpendapat bahwa kemukjizatan itu cukup hanya dengan satu surat lengkap sekalipun pendek dengan ukuran satu surat, baik satu ayat atau beberapa ayat.
___________________
[1] Abu Hasan Ahmad ibn Faris, Mu’jam Muqayyis al-Lugat, jilid IV (Mesir:Mustafa al-Babi al-Halabi, 1971), hal.232-233
[2] Muhammad Ali Ash-Shabuny, al-Tibyan fi uumil quran(Jakarta:Maktabah berkah Utami, t.t)hal. 92
[3] Jalaluddin al-Suyuthi, Al-Itqan fi ulum al-Qur’an, jilid IV(Kairo: al-Hai’ah al-Musyriyyah al-Ammahli al-Kitab, 1975), hal. 3
[4] Abd al-Qadir ‘Attha, ‘Adhimah Al-Qur’an, (Beirut: Dar al-Kutub al Ilmiyyah, tt.)hlm. 54
[5] Muhammad Ali Ash-Shabuny, op.cit. hal 105

 

Ayat Makkiyah dan Madaniyah Dalam Al-Quran / XI AGAMA

Ayat-ayat Makkiyyah dan Madaniyyah (1)

 

Bismillah walhamdulillah wash shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du:

Al-Qur`an Al-Karim diturunkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam secara bertahap dalam dua puluh tiga tahun, dan mayoritasnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendapatkan masa tersebut di Mekkah.

Allah Ta’ala berfirman,

وَقُرْآنًا فَرَقْنَاهُ لِتَقْرَأَهُ عَلَى النَّاسِ عَلَىٰ مُكْثٍ وَنَزَّلْنَاهُ تَنْزِيلًا

Dan Al-Qur`an itu telah Kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu membacakannya perlahan-lahan kepada manusia dan Kami menurunkannya bagian demi bagian” (Q.S. Al-Israa`:106).

Oleh karena itu ulama rahimahumullah ta’ala membagi Al-Qur`an menjadi dua macam, yaitu ayat-ayat makkiyyah dan ayat-ayat madaniyyah.

Ayat Makkiyyah

Syaikh Muhammad Shalih Al-’Utsaimin rahimahullah menjelaskan Ayat Makkiyyah adalah

ما نزل على النبي صلى الله عليه و سلم قبل هجرته إلى المدينة

Ayat yang diturunkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebelum beliau hijrah ke Madinah.

Ayat Madaniyyah

Ayat Madaniyyah, sebagaimana dijelaskan oleh Syaikh Muhammad Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah, yaitu

ما نزل على النبي صلى الله عليه و سلم بعد هجرته إلى المدينة

“Ayat yang diturunkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam setelah beliau hijrah ke Madinah.”

Dengan demikian, maka firman Allah Ta’ala,

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kalian agama kalian, dan telah Kucukupkan kepada kalian nikmat-Ku, dan telah Kuridhai Islam itu jadi agama bagi kalian” (Q.S. Al-Maaidah: 3).

termasuk jenis madaniyyah, karena ayat tersebut diturunkan di masa haji wada’ di Arafah. Sebagaimana hal ini disampaikan oleh ‘Umar radhiyallahu ‘anhu dalam Shahihul Bukhari tentang ayat di atas,

قد عرفنا ذلك اليوم والمكان الذي نزلت فيه على النبي صلى الله عليه وسلم وهو قائم بعرفة يوم جمعة

Kami telah mengetahui hari dan tempat yang padanya diturunkan ayat tersebut kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, sedangkan (pada saat itu) beliau berada di Arafah di hari Jum’at.

Perbedaan Ayat-ayat Makkiyyah dan Madaniyyah

Perbedaan keduanya akan nampak jelas jika dilihat dari dua sisi tinjauan, yaitu:

(A) Ditinjau dari sisi metode penyampaian dan gaya bahasa

  1. Ayat-ayat Makkiyyah: tegas metode penyampaiannya, dan kuat seruannya

Metode penyampaian pada mayoritas ayat-ayat makkiyyah itu tegas, dan seruannya juga kuat, karena kebanyakan orang-orang yang diseru dengan ayat-ayat makkiyyah ini adalah tipe orang-orang yang berpaling dari kebenaran dan sombong, maka tentunya tidak layak bagi mereka melainkan dengan metode penyampaian dan seruannya yang kuat.

Misalnya saja, ayat-ayat makkiyyah yang terdapat dalam surat Al-Muddatsir dan surat Al-Qamar.

Contoh ayat-ayat Makkiyyah ditinjau dari sisi ketegasan metode penyampaiannya, dan kekuatan seruannya  

Perhatikanlah surat Al-Qamar yang Makkiyyah berikut ini.

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

اقْتَرَبَتِ السَّاعَةُ وَانْشَقَّ الْقَمَرُ

(1) “Telah dekat datangnya saat itu dan telah terbelah bulan.

وَإِنْ يَرَوْا آيَةً يُعْرِضُوا وَيَقُولُوا سِحْرٌ مُسْتَمِرٌّ

(2) “Dan jika mereka (orang-orang musyrikin) melihat suatu tanda (mukjizat), mereka berpaling dan berkata: “(Ini adalah) sihir yang terus menerus.”

وَكَذَّبُوا وَاتَّبَعُوا أَهْوَاءَهُمْ ۚ وَكُلُّ أَمْرٍ مُسْتَقِرٌّ

(3) “Dan mereka mendutakan (Nabi) dan mengikuti hawa nafsu mereka, sedang tiap-tiap urusan telah ada ketetapannya.

وَلَقَدْ جَاءَهُمْ مِنَ الْأَنْبَاءِ مَا فِيهِ مُزْدَجَرٌ

(4) “Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka beberapa kisah yang di dalamnya terdapat pencegahan (dari kekafiran).

حِكْمَةٌ بَالِغَةٌ ۖ فَمَا تُغْنِ النُّذُرُ

(5) “Itulah suatu hikmah yang sempurna maka peringatan-peringatan itu tidak berguna (bagi mereka).

فَتَوَلَّ عَنْهُمْ ۘ يَوْمَ يَدْعُ الدَّاعِ إِلَىٰ شَيْءٍ نُكُرٍ

(6) “Maka berpalinglah kamu dari mereka. (Ingatlah) hari (ketika) seorang penyeru (malaikat) menyeru kepada sesuatu yang tidak menyenangkan (hari Pembalasan),

خُشَّعًا أَبْصَارُهُمْ يَخْرُجُونَ مِنَ الْأَجْدَاثِ كَأَنَّهُمْ جَرَادٌ مُنْتَشِرٌ

(7) “Sambil menundukkan pandangan-pandangan mereka keluar dari kuburan seakan-akan mereka belalang yang beterbangan.”

مُهْطِعِينَ إِلَى الدَّاعِ ۖ يَقُولُ الْكَافِرُونَ هَٰذَا يَوْمٌ عَسِرٌ

(8) “Mereka datang dengan cepat kepada penyeru itu. Orang-orang kafir berkata, Ini adalah hari yang berat.’”

كَذَّبَتْ قَبْلَهُمْ قَوْمُ نُوحٍ فَكَذَّبُوا عَبْدَنَا وَقَالُوا مَجْنُونٌ وَازْدُجِرَ

(9) “Sebelum mereka, telah mendustakan (pula) kamu Nuh, maka mereka mendustakan hamba Kami (Nuh) dan mengatakan, Dia seorang gila dan dia sudah pernah diberi ancaman).’”

فَدَعَا رَبَّهُ أَنِّي مَغْلُوبٌ فَانْتَصِرْ

(10) “Maka dia mengadu kepada Tuhannya, bahwasanya aku ini adalah orang yang dikalahkan, oleh sebab itu menangkanlah (aku).’”

Ayat-ayat Madaniyyah: lembut metode penyampaiannya dan mudah seruannya!

Sedangkan ayat-ayat madaniyyah, maka kebanyakan metode penyampaian di dalam ayat-ayat tersebut adalah lembut dan seruannya mudah, karena kebanyakan orang-orang yang diseru dengan ayat-ayat madaniyyah adalah tipe orang-orang yang tunduk dan menerima kebenaran. Silakan baca surat Al-Maidah.

Contoh ayat-ayat Madaniyyah ditinjau dari sisi kelembutan metode penyampaiannya dan kemudahan seruannya!

Perhatikanlah surat Al-Maidah berikut ini,

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَوْفُوا بِالْعُقُودِ ۚ أُحِلَّتْ لَكُمْ بَهِيمَةُ الْأَنْعَامِ إِلَّا مَا يُتْلَىٰ عَلَيْكُمْ غَيْرَ مُحِلِّي الصَّيْدِ وَأَنْتُمْ حُرُمٌ ۗ إِنَّ اللَّهَ يَحْكُمُ مَا يُرِيدُ

(1) “Hai orang-orang yang beriman, penuhilah akad-akad itu. Dihalalkan bagi kalian binatang ternak, kecuali yang akan dibacakan kepada kalian. (Yang demikian itu) dengan tidak menghalalkan berburu ketika kalian sedang mengerjakan haji. Sesungguhnya Allah menetapkan hukum-hukum menurut yang dikehendaki-Nya.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُحِلُّوا شَعَائِرَ اللَّهِ وَلَا الشَّهْرَ الْحَرَامَ وَلَا الْهَدْيَ وَلَا الْقَلَائِدَ وَلَا آمِّينَ الْبَيْتَ الْحَرَامَ يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنْ رَبِّهِمْ وَرِضْوَانًا ۚ وَإِذَا حَلَلْتُمْ فَاصْطَادُوا ۚ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ أَنْ صَدُّوكُمْ عَنِ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ أَنْ تَعْتَدُوا ۘ وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

(2) “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian melanggar syi’ar-syi’ar Allah, dan jangan melanggar kehormatan bulan-bulan haram, jangan (mengganggu) binatang-binatang hadya, dan binatang-binatang qalaaid, dan jangan (pula) mengganggu orang-orang yang mengunjungi Baitullah sedang mereka mencari karunia dan keridhaan dari Tuhan mereka dan apabila kalian telah menyelesaikan ibadah haji, maka bolehlah kalian berburu. Dan janganlah sekali-kali kebencian (kalian) kepada sesuatu kaum karena mereka menghalang-halangi kalian dari Masjidil Haram mendorong kalian berbuat aniaya (kepada mereka). Dan tolong-menolonglah kalian dalam (mengerjakan) kebaikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kalian kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.

[Bersambung]

Penulis: ABU UKKASYAH

© 2022 muslim.or.id
Sumber: https://muslim.or.id/34575-ayat-ayat-makkiyyah-dan-madaniyyah-1.html